Senin, 22 November 2010

UNSUR & TEKNIK INTERPRETASI CITRA


1.  UNSUR INTERPRETASI CITRA
Dalam interpretasi citra hal yang utama harus dipahami adalah pengenalan objek. Karena apabila tidak dilakukan pengenalan objek, tidak mungkin dilakuakn analisis untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi. Prinsip pengenalan objek pada citra mendasarkan atas penyidikan karakteristiknya atau atributnya pada citra. Karakteristik obyek yang tergamabar pada citra dan digunakan untuk mengenali obyek disebut unsure interpretasi citra.
Unsur interpretasi citra terdiri dari sembilan yaitu rona atau warna, ukuran, bentuk, tekstur, pola, tinggi, bayangan, situs dan asosiasi. Sembilan unsur interpretasi citra disusun secara berjenjang atau secara hirarkhik dan disajikian pada gambar di bawah.

1.a.      Rona dan Warna
                        Rona yang biasa disebut tone/color tone/ grey tone adalah tingkat kegelepanatau tingkat kecerahan obyek pada citra. Rona pada foto pankromatik merupakan atribut bagi obyek yang berinteraksi dengan seluruh spectrum tampak yang sering disebut sinar putih, yaitu spectrum dengan panjang gelombang (0,4-0,7) mm. Di dalam pengindraan jauh spectrum ini disebut spectrum lebar. Sehingga rona itu adalah tingkatan dari hitam ke putih atau sebaliknya.
                        Warna adalah wujud yang tampak oleh mata yang menggunakan spektum sempit, lebih sempit dari spectrum tampak. Berbeda dengan rona yang hanya menyajikan tingkat kegelapan di dalam wujud hitam putih, warna menunjukkan tingkat kegelapan yang lebih beraneka. Pernyataan tentang pembedaan obyek pada citra yang menggunakan spectrum sempit lebih mudah daripada pembedaan obyek pada citra yang dibuat dengan spectrum lebar, meskipun citranya sama-sama tidak berwarna. Asas inilah yang mendorong orang untuk menciptakan citra multispectral. Mengingat pentingnya rona atau warna sebagai unsure dasar, maka akan membahas tentang bagaimana rona dapat diinterpretasi.
a.    Cara pengukuran rona
Rona dapat diukur dengan dua cara yaitu dengan cara relatif dengan menggunakan mata biasa, dan dengan cara kuantitatif dengan menggunakan alat. Dengan menggunakan alat mata biasa, pada umummnya rona dibedakan atas lima tingkat, yaitu putih, kelabu putih, kelabu, kelabu hitam dan hitam. Dengan menggunakan alat maka rona dapat dibedakan dengan lebih pasti dan dengan tingkat pembedaan yang lebih banyak.
Rona dapat diukur berdasarkan opasitasnya amupun berdasarkan transmisinya. Tingkatan rona itu disebut density (density) yang besarnya sama dengan logaritma normal opasitas, atau
                 D = log O = log
Alat pengukur densiti disebut densitometer. Tiap jenis densitometer dibedakan atas densitometer titik (spot densitometer) dan densitometer penyiaman (scaning densitometer).
a.    Faktor yang mempengaruhi rona
Rona pada citra dipengaruhi oleh lima faktor  yaitu :
1.         Karakteristik obyek
2.         Bahan yang digunakan
3.         Pemrosesan emulsi
4.         Cuaca
5.         Letak obyek dan waktu pemotretan
c.  Cara pengukuran warna
     Pada umumnya digunakan tiga lapis zat warna yang berbeda-beda pada film berwarna. Fungsi zat warna itu ialah sebagai penyerap sinar. Cara pengukuran analitik ialah pengukuran densiti pada tiap panjang gelombang bagi tiap lapis zat warna.
d. Faktor yang mempengaruhi warna
     Panjang gelombang yang dominan atau panjang gelombang sinar rata-rata yang membentuk warna disebut hue. Disamping dipengaruhi hue, warna juga dipengaruhi oleh dua faktor lainnya, yaitu kejenuhan (saturation) dan intensitas. Pada pemberian warna dengan system Munsell, istilah kejenuhan diganti dengan chroma sedang istilah intensitas diganti dengan value.
  1.b.    Bentuk
                 Bentuk merupakan variable kualitatif yang memberikan konfigurasi atau kerangka suatu obyek. Bentuk, ukuran dan tekstur dikelompokkan sebagai susunan keruangan rona sekunderdalam segi kerumitannya. Pada bahasa Inggris, bentuk yaitu shape dan form. Shape adalah bentuk luar atau bentuk umum, sedang form merupakan susunan atau struktur yang bentuknya lebh rinci.
1.c.      Ukuran
                 Ukuran adalah atribut obyel yang antara lain berupa jarak, luas, tinggi, lereng dan volume. Karena ukuran obyek pada citra merupakan fungsi skala, maka di dalam memanfaatkan ukuran sebagai unsure interpretasi citra harus selalu diingat skalanya.
1.d.      Tekstur
                 Tekstur ialah frekuensi perubahan rona pada citra atau pengulangan rona kelompok obyek terlalu kecil untuk dibedakan secara individual. Tekstur sering dinyatakan dengan kasar, halus seperti berledu dan belang-belang.
1.e.      Pola
                 Pola, tinggi dan bayangan dikelompokkan kedalaman tingkat kerumitan tersier. Tingkat kerumitannya setingkat lebih tinggi dari tingkat kerumitan bentuk, ukuran dan tekstur sebagai unsure intepretasi citra. Pola atau susunan keruangan merupakan cirri yang menandai bagi banyak obyek bentukan manusia dan bagi beberapa obyek alamiah.
1.f.       Bayangan
                 Bayangan bersifat menyembunyikan detail obyek yang berada di daerah gelap. Obyek atau gejala yang terletak di daerah bayangan pada umumnya tidak tampak sama sekaliatau kdang tampak samar-samar. Meskipun demikian, bayangan sering menjadi kunci pengenalan yang penting bagi beberapa obyek yang justru lebih tampak dari bayangannya..
1.g.      Situs
                 Bersama-sama dengan asosiasi, situs dikelompokkan ke dalam kerumitan yang lebih tinggi. Situs bukan merupakan obyek secara langsung, melainkan dalam kaitannya dengan lingkungan sekitarnya.
1.h.      Asosiasi
                 Asosiasi dapat diartikan sebagai keterkaitan antara obyek yang satu dengan yang lain. Karena danya keterkaitan ini maka terlihatnya suatu obyek pada citra sering merupakan petunjuk bagi adanya obyek lain.

            Konvergensi Bukti
                 Di dalam mengelai obyek pada foto udara tau pada citra lainnya, dianjurkan untuk tidak hanyamenggunakan satu unsur interpretasi citra. Sebaiknya digunkan unsur interpretasi citra sebanyak mungkin. Semakin ditambah jumlah unsure interpretasi citra yang digunakan, semakin menciut lingkupnya kea rah titik simpul tertentu. Inilah yang dimaksud dengan konvergensi bukti (converging eveidence/convergence of evidence), atau bukti-bukti yang mengarah ke satu titik simpul.
2.  TEKNIK INTERPRETASI CITRA
                 Teknik interpretasi citra dimaksudkan sebagai alat atau cara khusus untuk melaksanakan metode pengindraan jauh. Ini juga merupakan cara untuk melakukan sesuatu secara ilmiah. Di dalam teknik interpretasi citra ini dibandingkan cara-cara interpretasi yang lebih menguntungkan.  Istilah tersebut diartikan dalam segi kemudahan pelaksanaan interpretasinya, lebih akurat hasil interpretasinya, atau lebih banyakinformasi yang diperoleh. Cara-cara tersebut adalah :
     2.a.   Data Acuan
                     Data acuan adalah data lain yang masih diperlukan untuk meyakinkan hasil interpretasinyadan untuk menambah data yang diperlukan tetapi tidak diperoleh dari citra. Data ini dapat berupa pustaka, pengukuran, analisis laboratorium, peta, kerja lapangan, foto terestrial maupun foto udara selain citra yang digunakan. Jumlah pekerjaan medan yang diperlukan di dalam interpretasi citra sangat beraneka. Ini sangat bergantung pada :
·      Kualitas citra yang meliputi skala, resolusi, dan informasi yang harus diinterpretasi
·      Jenis analisis atau interpretasinya
·      Tingkat ketelitianyang diharapkan, baik menyangkut penarikan garis batas deliniasi maupun klasifikasinya
·      Pengalaman penafsir citra dan pengetahuannya tentang sensor, daerah dan obyek yang harus diinterpretasi
·      Kondisi medan dan kemudahan mencapai daerah, yang untuk alas an tertentu ada daerah yang tidak dapat dijangkau untuk uji medan, dan ketersediaan data acuan
2.b.   Kunci Interpretasi Citra
                    Kunci interpretasi citra pada umumnya berupa potongan citra yang telah diinterpretasikan serta diyakinkan kebenarannya, dan diberi keterngan seperlunya. Keterngan bisanya meliputi jenis obyek, unsure interpretasinya dan keterangan tentang citra. Kunci interpretasi citra dimaksudkan sebagai pedoman dalam pelaksanaan interpretasi citra. Ada dua cara membedakan interpretasi citra yaitu :
1.   Atas Dasar Lingkupnya
Berdasarkan lingkupnya kunci interpretasi dibedakan menjadi 4 jenis yaitu :
a.    Kunci individual (item key)
     Kunci interpretasi citra yang digunakan untuk obyek atau kondisi individual.
b.  Kunci subyek (subject key)
     Himpunan kunci individual yang digunakan untuk identifikasi obyek-obyek atau kondisi penting dalam suatu subyek atau kategori tertentu.
c.  Kunci regional (regional key)
     Himpunan kunci individual atau kunci subyek untuk identifikasi obyek-obyek atau kondisi suatu wilayah tertentu.
d. Kunci analog (analog key)
     Kunci subyek atau kunci regional untuk daerah yang terjangkau secara terestrial.
2.  Atas Dasar Lainnya
           Salah satu dasar pembeda lainnya ialah pada karakter dasar atau karakter intrinsiknya. Berdasarkan karakter intrinsiknya maka kunci interpretasi citra dibedakan atas dua jenis yaitu :
a.       Kunci langsung (Direct key)
Kunci interpretasi citra yang disiapkan untuk obyek atau kondisi yang tampak langsung pada citra.
b.   Kunci asosiatif (Associative key)
      Kunci interpretasi citra yang terutama digunakan untuk deduksi informasi yang tidak tampak langsung pada citra.
2.c.   Penanganan Data (data handling)
         Cara yang sederhana untuk mengatur citra dengan baik adalah :
·   Menyusun citra tiap satuan perekaman atau pemotretan secara numerik dan manghadap ke atas
·   Mengurutkan tumpukan citra sesuai dengan urutan interpretasi yang akan dilaksanakan dan meletakkan kertas penyekat diantaranya
·   Meletakkan tumpukan citra sedemikian sehingga jalur terbang membentang dari kanan ke kiri terhadap arah pengamatan
·   Meletakkan citra yang akan digunakan sebagai pembanding sebelah-menyebelah yang akan diinterpretasikan
·   Pada saat citra dikaji, tumpukan menghadap ke bawah dalam urutannya.
2.d.   Pengamatan Stereoskopik
                    Pengamatan stereoskopik pada pasangan citra yang bertampalan dapat menimbulkan gambaran tiga dimensional bagi jenis citra tertentu. Citra yang telah lama dikembangkan untuk pengamatan stereoskopik adalah foto udara. Syarat pengamatan stereoskopik antara lain adanya daerah yang bertampalan dan adanya paralaks pada daerah yang bertampalan. Paralaks dalah perubahan letak obyek pada citra terhadap titik atau system acuan. Titik pengamatan ini berupa tempat pemotretan. Pertampalan pada foto udara berupa pertampalan depan (endlap) dan pertampalan samping (sidelap).
2. e.  Metode Pengkajian
         Pada dasarnya ada dua metode pengkajian secara umum, yaitu :
1.      “Fishing Expedition”
Citra menyajikan gambaran obyek dipermukaan bumi. Sebagai akibatnya maka bagi penafsir citra yang kurang berpengalaman sering mengambil data lebih banyak dari yang diperlukan.
2.      “Logical Search”
Dalam ‘logical search’ penafsir citra juga mengamati citra secara menyeluruh, tetapi ia secara selektif hanya mengambil data yang relevan terhadap tujuan interpretasinya.
2.f.    Konsep Multi
         Konsep multi adalah cara perolehan data dan analisis data pengindraan jauh meliputi :
1.      Multispektral
Ada 4 manfaat yaitu :
·      Meningkatkan kemampuan interpretasi citra secara manual
·      Dimungkinkannya pembuatan citra komposit warna atau paduan warna berdasarkan citra multispectral hitam putih
·      Dimungkinkannya peragaan citra paduan warna dengan menggunakan alat pengamat warna aditif
·      Memungkinkan dilakukannya pengenalan pola sehingga kemampuan interpretasinya meningkat sangat berarti

2.      Multitingkat
Pengindraan jauh dengan teknik multitingkat yaitu pengindraan jauh yang menggunakan wahana dengan ketinggian terbang diatas muka bumi dan atau tinggi orbit yang berbeda-beda. Secara lengkapnya berupa pengindraan dari satelityang disebut ketinggian tingkat 1.
3.      Multitemporal
Data pengindraan jauh multitemporal adalah data suatu daerah yang menggambarkan kondisi dan saat perekaman yang berbeda. Apabila data tersebut berupa foto udara, perekaman ulangnya pada umumnya dilakukan dengan jarak waktu 3 tahun atau lebih.
4.      Multiarah
Sensor yang dapat diatur kearah yang berbeda dapat mengingatkan kemampuan pengadaan data pengindraan jauh, terutama bagi daerah tropika yang banyak penutupan awannya.
5.      Multipolarisasi
Konsep multipolarisasi pada umummnya diterapkan pada citra radar. Pulsa tenaga yang dipancarkan dari antenna dapat dipolarisasikan sehingga gerakannya mengikuti bidang mendatar (H) atau bidang tegak (V).
6.      Multidisiplin
Citra pengindraan jauh menyajikan gambaran lengkap sehingga ia merupakan sarana yang baik sekali bagi pendekatan multidisipliner.

1 komentar:

  1. ijin copas gan

    ilmunyageografi.blogspot.co.id/2017/03/cara-pengukuran-rona.html?m=1

    BalasHapus

Sang Maha Guru "BENDAN"

Assalamualaikum :)   Sudah lama yak gak kunjung blog ini huft sibuk sih .... Oke setelah selama sebulan berkutat dengan PEMIRA UGM 2011 ...